Jurnalis Rasa Intel

 

Sumber : Pixabay

Kemajuan teknologi sudah menyentuh pelbagai bidang, termasuk jurnalistik. Metode pencarian informasi tidak lagi terbatas dari wawancara, pencarian dokumen fisik (paper trail), atau pencarian dokumen digital (internet trail). Ada sebuah metode baru yang disebut Open Source Intelegent (Osint).  Narasi Newsroom pernah menggunakan ini dalam pembuatan sebuah laporan investigasinya.

Pada 8 Oktober 2020 terjadi peristiwa pembakaran Halte Tranjakarta di Sarinah, Jakarta Pusat.  Peristiwa ini terjadi ketika buruh dan mahasiswa melakukan demonstrasi Tolak RUU Cipta Kerja pasca disetujuinya RUU ini oleh DPR-RI dan Pemerintah pada 5 Oktober 2020. Polda Metro Jaya akhirnya menangkap empat tersangka pelaku pembakaran pada 18 Oktober 2020.

Pada 28 Oktober 2020 Narasi merilis sebuah video laporan investigasi yang bertajuk “62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah”. hasil investigasi ini viral di media sosial. Salah satu hal yang menarik adalah pelaku pembakaran halte yang ada dalam hasil investigasi ini tidak mirip dengan tersangka yang ditangkap oleh Polda Metro Jaya.

Bagaimana sebenarnya Narasi dapat membuat sebuah laporan investigasi seperti ini dan bagaimana penggunaan metode ini jika dilihat menggunakan kacamata jurnalistik?

Saya berkesempatan megikuti Audiesi Virtual HMJ x Narasi pada 20 November 2020. Laban Laisila, sebagai Head of Newsroom dari Narasi menceritakan proses penggunaan metode Osint oleh Narasi.

Laban mengatakan bahwa Narasi terinsipirasi dari karya jurnalistik milik BBC yaitu “The Act of Killing” yang menggunakan metode Osint. Sejak bulan November 2019, Narasi mulai mempelajari metode ini. Mereka sudah melakukan beberapa praktik bukan hanya untuk kasus Halte Sarinah.

Laban mengaku dalam karya-karya jurnalistik yang dibuat oleh Narasi, komposisi informasi yang bersumber dari metode Osint ini bervariasi, ada yang 10%, 20%, 50%., di kombinasikan dengan metode yang lainnya.

“Membuat karya bukan buat viral, viral itu bonus, kita membuat karya sebaik-baiknya untuk bisa membuat masyarakat mengerti, dengan tretment yang baru hampir di setiap karya da mencari cerita di balik berita,” ujar Laban

Ketika hasil investigasi ini viral, Laban mengaku banyak orang yang bertanya darimana sumber video CCTV yang ada di dalam investigasiya. Banyak dugaa bahwa Narasi mendapatkan bocoran dari pihak-pihak tertentu, salah satunya Pemda DKI Jakarta. Ia mengklarifikasi bahwa Narasi mendapatkannya dari CCTV Bali Tower yang bisa diakses oleh siapa saja melalui internet.

Laban menyebut ini sebagai kejelian dari tim Narasi.Mereka merekam video CCTV Bali Tower pada hari kejadian menjelang sore hari dengan prediksi awal akan terjadi pembubaran massa aksi oleh aparat pada pukul 6 sore. Ini sebuah prediksi yang dinilai wajar karena memang berdasarkan peraturan yang berlaku, aksi demonstrasi hanya boleh dilakukan hingga pukul 6 sore.

Hasil liputan dirilis 20 hari setelah kejadian. Hal ini Laban akui karena tim Narasi perlu untuk meneliti detail dari setiap kejadian yang terekam dalam video CCTV tersebut, juga dari sumber lain yang juga merekam kejadian di lokasi pada waktu-waktu sekitar kejadian.

Mengenai hasil liputan yang menyimpulkan tersangka pembakaran halte yang ditangkap polisi berbeda dengan yang mereka temukan dalam investigasinya, Laban mengatakan Narasi hanya mengklarifikasi dan mengkonfirmasi kepada kepolisian.

Ketika ditanya bagaimana peggunaan metode ini dari sudut pandang hukum dan etika media, Ogi Wicaksana selaku Section Head Corporate Communications dari Narasi mengatakan bahwa ini bukan sebuah pelanggaran. Menurutnya Narasi hanya menggunakan bahan yang bisa diakses oleh siapapun dan konten ini milik publik. Adapun penggunaan video dari media sosial dan media daring, mereka meminta izin kepada para pemilik konten demi menghargai hak ciptanya.

Laban mengatakan ketika melakukan investigasi , jurnalis sebisa mungkin mendapatkan dokumen yang ekslusif, tetapi tidak boleh melanggar etika seperti membeli. Menurutnya Narasi hanya mengandalkan kejeliannya dalam mengolah data yang sebenarnya bisa diakses oleh semua orang.

Hadirnya metode baru Osint menjadi hal yang sangat menarik untuk dibahas di dalam ruang-ruang diskusi para pegiat jurnalistik. Ini dapat menjadi hal yang sangat positif bagi kemajuan jurnalistik karena dapat menghasilkan sisi lain dari suatu kejadian dan membahasnya dengan lebih mendalam. Namun metode ini dapat juga dapat menjadi sebuah tantangan baru bagi jurnalis untuk memilih sumber yang memang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bagaimana menurutmu?~


Penulis : Yaser Fahrizal Damar Utama

Posting Komentar

0 Komentar