Bedah Film : Distopia dalam Film The Matrix

 

Poster Film The Matrix (Sumber : IMDB)
    

Film lawas dengan scene bullet time yang sangat ikonik ini sudah beberapa kal i ditonton oleh saya, karena sangat banyak detail menarik yang disajikan dalam film ini. Selain saya menontonnya berulang-ulang saya juga membaca artikel-artikel yang bertebaran di internet mengenai teori-teori yang ada dalam film the matrix.  Film ini menggambarkan masa depan umat manusia di tahun  2199 , peradaban  manusia sudah tidak ada lagi dipermukaan bumi. Sebagian besar umat manusia hidup dalam sebuah simulasi komputer yang diciptakan oleh AI. Sebagian lainnya hidup di sebuah kota bawah tanah bernama Zion.

            Thomas Anderson, seorang pekerja di sebuah perusahaan  perangkat lunak yang juga menjadi seorang hacker dengan nama samaran “Neo” ini kerap kali mengalami mimpi buruk dan dia sulit membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata karena keduanya terasa sama olehnya. Dia dihubungi oleh seseorang melalui komputernya yang membimbingnya untuk mencari tahu mengenai The Matrix. Dia bertemu dengan seorang bernama Trinity dan berkata akan mempertemukan dia dengan seseorang yang dia cari yaitu “Morpheus”.

            Setelah bertemu dengan Morpheus, dia diminta untuk memilih satu diantara 2 pil, yaitu piil merah dan biru. Dari yang diceritakan oleh Morpheus, dua pil ini akan menjadi hal yang sangat penting bagi Neo dalam memahami realitas. Memilih antara kedua pil ini artinya memilih untuk mengetahui realitas dengan segala resikonya atau memilih untuk tidak mengetahui apa-apa dan semua akan terlihat seperti biasanya. Neo memilih untuk  memakan pil merah yang berarti dia siap menerima realitas yang sebenarnya. Perjalanan neo sebagai The One pun mulai sejak saat ini.

            Neo akhirnya mengetahui bahwa selama ini yang dia jalani sebenarnya hanyalah sebuah simulasi komputer. Realitas yang dia pahami sebenarnya hanyalah sinyal sinyal elektronik yang diartikan sebagai sebuah hal yang nyata oleh pikirannya. Sulit bagi Neo beradaptasi dengan realitas barunya, seperti fisik yang lemah dan  kenyataan bahwa selama ini dia hidup dalam simulasi sulit diterima neo. Namun seiring dengan pelajaran yang diajarkan oleh Morpheus di kapal nebukanezar, neo mulai memahami apa yaang sebenarnya terjadi.

            Jika kita hubungkan dengan alegori gua plato, Neo adalah seorang budak yang terpenjara dalam gua The Matrix, ketika dia melihat dunia yang nyata dalam hal ini bumi yang sudah hancur dia mulai sadar bahwa yang dulu dia anggap nyata (The Matrix) hanyalah sebuah bayang-bayang yang dia anggap nyata. Neo menganggap the matriks sebagai sebuahg realitas karena realitasnya sudah direkontruksi sejak awal dia hidup, sama seperti budak yang ada dalam alegori gua plato. Neo tertipu oleh inderanya sendiri, seperti yang dikatakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf dari prancis abad ke-17.  Descartes menganggap bahwa realitas sulit jika hanya dinilai oleh apa yang bisa dirasakan oleh indera.

Posting Komentar

0 Komentar